Waiting For You * Remember Rain With You*Ada Cerita di Balik Hujan

Pages

Tampilkan postingan dengan label " Membangun Jiwa ". Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label " Membangun Jiwa ". Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Maret 2012

Ada Apa Dengan Aceh...?


Suatu hari aku berdiri didepan khalayak ramai menggelar 'Aceh Appeal', menggalang dana, menebar dan menyebar peduli dan prihatin, buat yatim yatim Aceh. Namun itu khayal belaka, itu suatu impian dan lamunan, lalu mimpi dan khayal ini kusimpan dan kusudutkan direlung sudut dan sela hati.

Setiap saat  kuusung hal Aceh dimajlis kami selalu ditepis dan dibekukan,  aku sebel dan kecewa. Aku tak ada daya saat itu. Upaya untuk meyakinkan memang tidaklah mudah. Pasalnya memang aku sendiri tak tahu banyak tentang Aceh. Kadang aku jadi malas dan enggan. Karena rumit dan ruwetnya kalian punya hal, sukar untuk diurai. Namun halmu tetap kusimpan dan tetap menjadi agenda.

Disela sela kesibukan rutin mencari simpati dan menebar peduli buat bocah bocah Maluku, lewat jejaring 'maya pada' yang mengglobal, ternyata hal ini sempat membuat saudaraku yang Aceh tersengat. Deraan, kritik dan teguran tak luput dan mengundangku 'tuk menohok ke Aceh'.  Akupun terhenyak.  Sangat mungkin aku ini kurang bijak, menutup sebelah mata buat bocah bocah Aceh yang sama sama punya derita yang bahkan tak berkesudahan.

Lalu aku bertanya pada diri sendiri. Benarkah aku tidak bijak, benarkah aku telah menganak tirikan Aceh? tuntutan itu kerap datang dan mengundang sementara rasa berdosa  mengiringi lalu menyelinap dibalik tirai hati...disimpan.

Masih belum surut usahaku lalu dengan berat hati kucoba lagi kuusung masalahmu lewat majlisku  kendati kutahu jawabnya akan sama 'ditepis'. Kalian tahu  ucap mereka? 'Sabarlah..tunggulah kita harus melawat dan menengok mereka'. Buatku ini cukup kendati  mungkin basa basi.

Tiga tahun selam  aku sempat bersitegang dengan rekan via email tentang Aceh.'Bantulah anak yatim Aceh' sarannya, lalu kujawab 'Di Aceh kan tidak ada jihad'  oh....dia berang, kami malah  jadi berseteru dan saling tak menyapa  karena miskonsepsi  dan misinterpretasi tentang jihad.  Kami bungkam  gara gara soal Aceh dalam pemahaman jihad.

---

Syahdan suatu hari deraan itu kian menguat untuk  bertandang ke Aceh, melawat sang yatim dan ibu janda mereka. Tekad dan determenasi setara, rasa rasanya saat itu. Namun nyaris sahabat dan kerabat tak membolehkan aku untuk menginjak tanah Rencong yang lama kurindu...

'Teteh jangan dulu ke Aceh..belum waktunya' ujar mereke merajuk.  Aku protes, aku menggelang tak mengerti. Ragu dan bimbang hadir kembali, bersaing menggeluti hati.
Lalu aku bertanya ' Ada apa dengan Aceh?' Niatpun jadi urung dan aku tahu sahabat di Aceh yang mengharap kunjungaku jadi kecewa.

Dengar anak-anakku di Aceh

Anakku ...suatu hari aku saksikan  di layar teve lewat kepingan cd. Wajah kalian yang cantik dana tampan menyembul. Kalian berjejer dengan puluhan  temanmu menembangkan ritme dan lyrik Acehmu. Diantaramu ada seorang vokalis menyampaikan pesan  duka laramu sebagai bocah bocah yang nelangsa dan terdzalimi.

Anakku..aku menyaksikan wajahmu yang hiba mohon welas asih akan keadilan, menghentikan bentuk kedurjanaan apapun alasannya. Kami tahu bahwa masa kanak kanakmu telah terenggut oleh dan atas nama egoisme dan emosi belaka, masa riamu terampas oleh dan atas nama kedzaliman, ketama'an dan kekuasaan. Anakku  dadaku megap gedebukan, pelupukku memanas hingga derai airmata tak sanggup kubendung. Pesamu lirihmu sungguh telah merobek lembar lembar hatiku, air matamu telah meremas remas relung hatiku yang paling dalam.

Kalian bagai anak ayam yang kelaparan dilumbung padi, emak dan indukmu menghilang disambar elang ganas- kau terhuyung huyung kehilangan kendala....sungguh  paradok. Sayangnya saat itu aku  masih terlalu lemah untuk segera melangkah bertandang kenegerimu, masih kecut dan takut. Anakku pelan namun pasti tekad itu susesungguhnya sudah mulai mengokoh untuk berkunjung..namun hati ini tetap bertanya tanya ...ada apa dengan Aceh?

Kini.....

Anakku..impian dan khayal itu kini menjadi nyata. Berdiri didepan khalayak mengimbau, yang pernah kudambakan dulu itu kini bukan lagi impian namun sudah nyata..oh anakku. Kami ajak dan panggil peduli mereka  untuk kalian di Aceh, dari semua daratan dan pulau, dikota dan digedung gedung kantor dan sekolah, kedai, pasar, trotoar, jalanan, station hingga bocah balita bernama Salsabila menenteng ember bersama bundanya entah itu dibundaran Trafalgar, station Liverpool, hingga yang lalu lalang melempar poundnya.

Begitu pula Putri diutara, gadis cilik nan cantik di Aberdeen sana mengajak guru dan kepala sekolah serta teman sebaya untuk unjuk peduli mereka untuk kalian. Konon  bingkisan besar itu akan melepas sauhnya untuk beranjak segera yang akan merelai duka kalian. Tunggulah

Kalian tahu kalau anak manusia, semua mahluk dibumi ini, hingga semutpun menangisimu, peduli dengan duka lara kalian...dan peduli ini mereka sampaikan lewat tayangan tivi atau berhadapan. Penasaranku menggelitik lalu kutanya kenapa mereka peduli dengan kalian? "Kami merasa ada keterikatan dengan Indonesia terutama dengan Aceh, terutama bocah bocah dan yatim Aceh" dan mereka melepas harta dan kekayaan mereka untuk kalian bahkan jiwa.
Kusampaikan rasa haru dan terimakasihku atas nama kalian di Aceh dan pesan mereka ' 'Tolong doakan kami ' mereka yang di Amerika, Canada, Jerman, Inggris dan Irlandia dan banyak lagi...dari seluruh ras, bangsa, warna  dengan pesan 'please make doa for us' Lalu kukatakan pada mereka' insya Allah doa warga dan anak anak Aceh akan makbul karena mereka adalah orang orang yang tengah terkena bencana, bersimbah dengan  duka lara, terdzalimi dimasa lalu pula'.

Aku tertunduk, suaraku tersendat penuh haru, haru atas peduli dan cinta mereka untuk kalian. Anakku berjanjilah untuk hidup rukun dimasa depan, terutama sesamamu, serumpun dan seagamamu, kalian adalah ibarat satu tubuh, jangan kau dzalimi diri kalian.

Tunggulah anakku hingga aku berada didekapanmu, hingga aku mengusap dan menyentuh helai rambutmu kendati aku masih bertanya tanya...ada apa dengan Aceh ?.

London, 19 Januari 2005
al_shahida@yahoo.com

Capai Potensi Yang Maksimal

Setiap orang mendambakan masa depan yang lebih baik ; kesuksesan dalam karir,
rumah tangga dan hubungan sosial, namun seringkali kita terbentur oleh berbagai
kendala. Dan kendala terbesar justru ada pada diri kita sendiri.
Melalui karyanya, Joel Osteen menantang kita untuk keluar dari pola pikir yang
sempit dan mulai berpikir dengan paradigma yang baru.

Ada 7 langkah agar kita mencapai potensi hidup yang maksimal :

* Langkah pertama adalah perluas wawasan. Anda harus memandang kehidupan ini
dengan mata iman, pandanglah dirimu sedang melesat ke level yang lebih tinggi.
Anda harus memiliki gambaran mental yang jelas tentang apa yang akan Anda raih.
Gambaran ini harus menjadi bagian dari dirimu, didalam benakmu, dalam percakapanmu,
meresap ke pikiran alam bawah sadarmu, dalam perbuatanmu dan dalam setiap
aspek kehidupanmu.

* Langkah ke dua adalah mengembangkan gambar diri yang sehat. Itu artinya Anda harus
melandasi gambar dirimu diatas apa yang Tuhan katakan tentang Anda.
Keberhasilanmu meraih tujuan sangat tergantung pada bagaimana Anda memandang
dirimu sendiri dan apa yang Anda rasakan tentang dirimu. Sebab hal itu akan menentukan
tingkat kepercayaan diri Anda dalam bertindak. Fakta menyatakan bahwa Anda tidak akan
pernah melesat lebih tinggi dari apa yang Anda bayangkan mengenai dirimu sendiri

* Langkah ke tiga adalah temukan kekuatan dibalik pikiran dan perkataanmu.
Target utama serangan musuh adalah pikiranmu. Ia tahu sekiranya ia
berhasil mengendalikan dan memanipulasi apa yang Anda pikirkan, maka ia
akan berhasil mengendalikan dan memanipulasi seluruh kehidupanmu.
Pikiran menentukan prilaku, sikap dan gambar diri. Pikiran menentukan tujuan.
Alkitab memperingatkan kita untuk senantiasa menjaga pikiran.

* Langkah ke empat adalah lepaskan masa lalu, biarkanlah ia pergi...
Anda mungkin saja telah kehilangan segala yang tidak seorangpun patut mengalaminya
dalam hidup ini. Jika Anda ingin hidup berkemenangan , Anda tidak boleh memakai
trauma masa lalu sebagai dalih untuk membuat pilihan-pilihan yang buruk saat ini.
Anda harus berani tidak menjadikan masa lalu sebagai alasan atas sikap burukmu
selama ini, atau membenarkan tindakanmu untuk tidak mengampuni seseorang.

* Langkah ke lima adalah temukan kekuatan di dalam keadaan yang paling buruk sekalipun
Kita harus bersikap :" Saya boleh saja terjatuh beberapa kali dalam hidup ini, tetapi
tetapi saya tidak akan terus tinggal dibawah sana." Kita semua menghadapi
tantangan dalam hidup ini . KIta semua pasti mengalami hal-hal yang datang
menyerang kita. Kita boleh saja dijatuhkan dari luar, tetapi kunci untuk hidup
berkemenangan adalah belajar bagaimana untuk bangkit lagi dari dalam.


* Langkah ke enam adalah memberi dengan sukacita. Salah satu tantangan terbesar
yang kita hadapi adalah godaan untuk hidup mementingkan diri sendiri.
Sebab kita tahu bahwa Tuhan memang menginginkan yang terbaik buat kita,
Ia ingin kita makmur, menikmati kemurahanNya dan banyak lagi yang Ia sediakan buat kita,
namun kadang kita lupa dan terjebak dalam prilaku mementingkan diri sendiri.
Sesungguhnya kita akan mengalami lebih banyak sukacita dari yang pernah dibayangkan
apabila kita mau berbagi hidup dengan orang lain.

* Langkah ke tujuh adalah memilih untuk berbahagia hari ini. Anda tidak harus menunggu
sampai semua persoalanmu terselesaikan. Anda tidak harus menunda kebahagiaan
sampai Anda mencapai semua sasaranmu. Tuhan ingin Anda berbahagia apapun kondisimu,
sekarang juga !

Antara Kebenaran Dan Dusta

Suatu hari ketika 'Ali sedang berada dalam pertempuran, pedang musuhnya
patah dan orangnya terjatuh. 'Ali berdiri di atas musuhnya itu, meletakkan
pedangnya ke arah dada orang itu, dia berkata, "Jika pedangmu berada di
tanganmu, maka aku akan lanjutkan pertempuran ini, tetapi karena pedangmu
patah, maka aku tidak boleh menyerangmu."

"Kalau aku punya pedang saat ini, aku akan memutuskan tangan-tanganmu dan
kaki-kakimu," orang itu berteriak balik.

"Baiklah kalau begitu," jawab 'Ali, dan dia menyerahkan pedangnya ke tangan
orang itu.

"Apa yang sedang kamu lakukan", tanya orang itu kebingungan. "Bukankah saya
ini musuhmu?"

Ali memandang tepat di matanya dan berkata, "Kamu bersumpah kalau memiliki
sebuah pedang di tanganmu, maka kamu akan membunuhku. Sekarang kamu telah
memiliki pedangku, karena itu majulah dan seranglah aku". Tetapi orang itu
tidak mampu.

"Itulah kebodohanmu dan kesombongan berkata-kata," jelas 'Ali. "Di dalam
agama Allah tidak ada perkelahian atau permusuhan antara kamu dan aku. Kita
bersaudara. Perang yang sebenarnya adalah antara kebenaran dan kekurangan
kebijakanmu. Yaitu antara kebenaran dan dusta. Engkau dan aku sedang
menyaksikan pertempuran itu. Engkau adalah saudaraku. Jika aku menyakitimu
dalam keadaan seperti ini, maka aku harus mempertanggungjawabkannya pada
hari kiamat. Allah akan mempertanyakan hal ini kepadaku."

"Inikah cara Islam?" Orang itu bertanya.

"Ya," jawab 'Ali, "Ini adalah firman Allah, yang Mahakuasa, dan Sang Unik."

Dengan segera, orang itu bersujud di kaki 'Ali dan memohon, "Ajarkan aku
syahadat."

Dan 'Ali pun mengajarkannya, "Tiada tuhan melainkan Allah. Tiada yang ada
selain Engkau, ya Allah."

Hal yang sama terjadi pada pertempuran berikutnya. 'Ali menjatuhkan
lawannya, meletakkan kakinya di atas dada orang itu dan menempelkan
pedangnya ke leher orang itu. Tetapi sekali lagi dia tidak membunuh orang itu.

"Mengapa kamu tidak membunuh aku?" Orang itu berteriak dengan marah. "Aku
adalah musuhmu. Mengapa kamu hanya berdiri saja?" Dan dia meludahi muka 'Ali.

Mulanya 'Ali menjadi marah, tetapi kemudian dia mengangkat kakinya dari
dada orang itu dan menarik pedangnya. "Aku bukan musuhmu", Ali menjawab.

"Musuh yang sebenarnya adalah sifat-sifat buruk yang ada dalam diri kita.
Engkau adalah saudaraku, tetapi engkau meludahi mukaku. Ketika engkau
meludahi aku, aku menjadi marah dan keangkuhan datang kepadaku. Jika aku
membunuhmu dalam keadaan seperti itu, maka aku akan menjadi seorang yang
berdosa, seorang pembunuh. Aku akan menjadi seperti semua orang yang
kulawan. Perbuatan buruk itu akan terekam atas namaku. Itulah sebabnya aku
tidak membunuhmu."

"Kalau begitu tidak ada pertempuran antara kau dan aku?" orang itu bertanya.

"Tidak. Pertempuran adalah antara kearifan dan kesombongan. Antara
kebenaran dan kepalsuan". 'Ali menjelaskan kepadanya. "Meskipun engkau
telah meludahiku, dan mendesakku untuk membunuhmu, aku tak boleh."

"Dari mana datangnya ketentuan semacam itu?"

"Itulah ketentuan Allah. Itulah Islam."

Dengan segera orang itu bersimpuh di kaki 'Ali dan dia juga minta diajari
dua kalimat syahadat.

Rabu, 04 Januari 2012

Beautiful

Beautiful
Penulis: Abu Aufa (http://www.abuaufa.net/)


Menjelang tengah hari yang indah di Iizuka. Suasana
terang-benderang dengan sinar mentari yang menerobos
dari balik awan. Bumi bagaikan diselimuti cahaya
putih. Sinarnya yang berpendar-pendar membuat silau
mata memandang. Alam sekitar terasa hangat bersahabat,
walau udara di musim dingin tak urung pula menampar
permukaan kulit yang terbuka.

Hmm...
Sabtu yang cerah. Saatnya menikmati kebersamaan dengan
seisi anggota keluarga. Hari kerja yang biasanya
melelahkan seakan terhapus oleh wajah-wajah ceria.
Bahkan, sekedar berbelanja di sebuah supermarket dekat
rumah pun menjadi hiburan yang tak kalah meruahkan
kebahagiaan. Kemudian sibuk memilih barang-barang
untuk keperluan sepekan. Setelah selesai, segera
beranjak pulang.

Sambil bersenda-gurau disela obrolan, perjalanan
menjadi tak terasa panjang dan membosankan. Walaupun,
ingin pula rasanya kaki melangkah lebih cepat agar
segera merasakan kehangatan dari pemanas ruangan di
rumah. Namun aneka ragam barang belanjaan di keranjang
baby car, semakin membuat kedua pasang rodanya
berdecit gusar pada aspal jalanan.

Uups...
Sesaat istri menghentikan pembicaraan seraya menunjuk
ke satu arah. Lalu terukir senyuman di wajahnya.

"Hmm... Si Morning," aku bergumam seraya tersenyum
pula.

Sebuah sapa yang sering dilontarkannya setiap kali
bersua, membuatku memanggilnya Si Morning. Mungkin
sapaan itu pula yang pernah dan selalu mengukir kesan
di hati karena keramahan sifatnya.

Langkah anak istimewa itu masih saja tampak goyah,
sehingga dari jauh sosoknya tetap saja bisa dikenal.
Tubuhnya yang pendek dibalut baju hangat berlengan
panjang, sementara topi putih menutupi kepalanya yang
berukuran besar dan dicukur botak. Sepintas ia
terlihat tersenyum lebar, berpadu dengan ciri khas
spesifik mongolism di wajah. Kedua matanya sipit dan
turun, serta letaknya saling berjauhan. Dagu yang
kecil juga membuat lidahnya seakan menonjol keluar.

Anak laki-laki itu pasti lelah. Butiran keringat masih
tersisa dan tampak berkilauan di wajah. Namun, matanya
berbinar-binar bagaikan melihat sesuatu yang sangat
berharga ketika melihat anak kami, Zafirah Asy-Syifa.
Kemudian dari bibirnya yang setengah terbuka terucap
kata, "Beautiful...," dengan nada suara terdengar
gagap.

Seketika itu juga aku kembali terperangah karena
ucapannya. Sesaat, pikiran mengembara.

Tentu saja buah hati tercinta ini tidaklah secantik
seperti pujiannya, tapi Asy-Syifa laksana putri raja
nan jelita bagi kami berdua. Pun, semua anak yang
dilahirkan di dunia pasti tampan dan cantik menawan,
karena mereka adalah ciptaan Allah yang Maha Sempurna.
Anak-anak juga sebuah anugerah terindah dan berharga
yang dimiliki setiap orang tua.

Namun entahlah...
Dengan penampilan fisiknya yang aneh dan berbeda,
mungkin sukar rasanya ia akan menerima pujian serupa
dari orang lain yang melihatnya. Tapi bagi kedua orang
tuanya, Si Morning adalah lelaki tertampan di dunia
dan kebanggaan mereka. Aku yakin pula bahwa ia adalah
seorang anak yang tumbuh dalam keluarga yang tak pelit
memberikan penghargaan. Bukankah seorang anak akan
belajar dari apa yang orang tua ajarkan terhadap
dirinya?

Sebagaimana mereka tumbuh dalam cacian, maka ia akan
menjadi orang yang gemar mencaci. Bila tumbuh dalam
keluarga yang kering terhadap apresiasi, akan sulit
rasanya berharap ia memberikan juga apresiasinya
kepada orang lain. Dan jika anak tersebut tumbuh dalam
nuansa penuh curahan kasih sayang, kelak ia pun akan
menjadi seseorang yang senang mengasihi.

Saat ini...
Aku teramat yakin dan percaya. Anak laki-laki istimewa
itu tentu tumbuh dalam sebuah keluarga yang suka
memberikan pujian, kasih dan cinta. Padahal segala
kekurangan yang jelas ada pada dirinya mungkin tak
akan membuat orang lain memandang walau dengan sebelah
mata.

WaLlahu a'lamu bish-shawaab.

*MERENGKUH CINTA DALAM BUAIAN PENA*
Al-Hubb FiLlah wa LiLlah,

Jumat, 23 Desember 2011

Gadis Kecil itu Sedang Menikmati Makan Siangnya, Saat Peluru Tentara Israel Menembus Kepalanya .

eramuslim - Kesedihan yang mendalam menaungi satu keluarga Palestina yang
tinggal di kamp pengungsi Khan Younis, Jalur Gaza. Sebuah tragedi akibat
kebrutalan tentara Israel telah menimpa keluarga itu. Kekejaman tentara
Yahudi itu terlihat dari sisa-sisa percikan darah yang masih melekat di
bangku dan meja makan rumah mereka. Yang paling jelas terlihat adalah bekas
tetesan darah dari kepala puteri mereka Rana, yang tewas akibat peluru
tentara Israel yang menembus kepalanya.

Sang ayah, yang juga terkena tembakan di kakinya, memilih mengantarkan
puterinya ke tempat peristirahatannya yang terakhir, ketimbang mengikuti
saran dokter agar tetap di rumah sakit.

"Ini adalah sebuah kejahatan," ujar ayah Rana, yang berusia 50 tahun. Bagi
sang ayah, puterinya Rana yang masih berusia 7 tahun adalah seorang martir,
seperti anak-anak Palestina lainnya yang tewas terbunuh karena kekejaman
tentara Israel.

Makan Siang Terakhir Buat Rana

Masih segar dalam ingatan keluarga itu, tragedi yang terjadi 5 hari yang
lalu, tepatnya hari Jumat, 10 Desember.

"Kamis semua sedang berkumpul di meja makan, menikmati makan siang bersama
saudara-saudara kami yang kebetulan datang berkunjung. Kami mendengar suara
tembakan di luar. Tamu dan anak-anak kami panik, karena mereka tidak biasa
mendengar suara yang bagi kami sudah menjadi hal yang biasa. Kami
menenangkan mereka dan mengatakan bahwa suara tembakan itu adalah hal yang
biasa disini," kisah ibu Rana yang masih terlihat sedih atas kematian
puterinya.

"Suami saya menyelesaikan makan siangnya dan bergegas mencuci tangan.
Tiba-tiba kami mendengar ia berteriak bahwa ia tertembak. Kami berlari
menuju kearahnya untuk melihat apa yang terjadi. Namun saat itu pula kami
mendengar teriakan puteri Heb, yang berusia 8 tahun."

"Ia berteriak, 'Rana! Rana!' Lantas kami melihat Rana tergeletak di tempat
tidur yang terletak dekat meja makan," ibu Rana mulai menangis dan tidak
sanggup lagi melanjutkan ceritanya.

"Meski kaki saya terluka kena tembakan, saya berlari untuk melihat Rana.
Wajah Rana bersimbah darah, saya peluk dia dan langsung membawanya ke rumah
sakit Nasser," lanjut sang ayah.

"Rana tidak bergerak. Darah terus mengalir membasahi wajah dan tubuhnya.
Tapi saya berharap dokter bisa melakukan sesuatu untuk menyelamatkan
nyawanya," sampai di situ ayah Rana terdiam, menyadari bahwa takdir berkata
lain.

Rana adalah siswa kelas dua sekolah dasar untuk pengungsi di kamp pengungsi
Khan Younis di Jalur Gaza. Ribuan warga Palestina mengantar kepergian Rana
ke tempat peristirahatan terakhirnya di pemakaman para pejuang Palestina
yang telah gugur hari Jum'at itu.

Kini, tinggal kenangan tentang Rana yang masih hidup di keluarga itu. Dengan
menahan kesedihan dan sakit di kakinya, ayah Rana masih melihat kaca jendela
rumahnya yang pecah akibat tembakan peluru tentara Israel. Dari sana bisa
terlihat pos penjagaan tentara Israel. "Anda masih bisa melihat bekas peluru
pembunuh itu yang menembus kaca jendela ini saat kami sedang makan siang,"
ujarnya.

"Antisipasi dan rasa ketakutan adalah bagian dari hidup kami. Para tentara
Israel itu menembak siapa saja, laki-laki, perempuan, anak-anak tanpa
pilih-pilih," kata ayah Rana.

Rumah Rana terletak sekitar 600 meter dari pos penjagaan tentara Israel,
dekat pemukiman Naveh Dikalem, sebelah barat Khan Younis. Bagi warga di
pemukiman itu, tembakan tentara Israel ke arah pemukiman sudah menjadi hal
yang rutin.

Bukan sekali ini saja, anak-anak Palestina tewas terbunuh akibat tembakan
penembal jitu tentara Israel, entah itu di ruang kelas atau di pos
penjagaan. Tanggal 13 Oktober kemarin, seorang anak perempuan Palestina
berusia 10 tahun tewas, akibat peluru tentara Israel yang menembus dadanya.
Gadis kecil itu ditembak saat sedang duduk di dalam kelas, di sekolah milik
PBB yang didirikan di kamp pengungsi Gaza.

Seminggu sebelumnya, Imam Al-Hams juga ditembak oleh sekitar 20 tentara
Israel saat ia sedang berjalan menuju sekolahnya.

Data yang dimuat situs Kementerian Kesehatan Palestina menyebutkan, sejak
pendudukan Palestina pada bulan September 2000, sekitar 821 anak-anak
Palestina yang berusia 18 tahun kebawah menjadi korban kekejaman tentara
Yahudi itu. (ln/iol)

Rabu, 21 Desember 2011

Air mata Mutiara


Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek.
"Anakku," kata sang ibu sambil bercucuran air mata, "Tuhan tidak memberikan pada kita, bangsa kerang, sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu." Si ibu terdiam, sejenak, "Aku tahu bahwa itu sakit anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam.
Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan
rasa ngilu dan nyeri yang menggigit.
Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat", kata ibunya dengan sendu dan lembut.

Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit terkadang masih terasa.
Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya.
Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya.
Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya.
Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar.
Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.

Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap,
dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna.
Penderitaannya berubah menjadi mutiara; air matanya berubah menjadi sangat berharga.
Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain
yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.

**********
Cerita di atas adalah sebuah paradigma yg menjelaskan bahwa penderitaan adalah lorong transendental untuk menjadikan "kerang biasa" menjadi "kerang luar biasa".
Karena itu dapat dipertegas bahwa kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah "orang biasa" menjadi "orang luar biasa".

Banyak orang yang mundur saat berada di lorong transendental tersebut,
karena mereka tidak tahan dengan cobaan yang mereka alami.
Ada dua pilihan sebenarnya yang bisa mereka masuki: menjadi `kerang biasa' yang disantap orang atau menjadi `kerang yang menghasilkan mutiara'.
Sayangnya, lebih banyak orang yang mengambil pilihan pertama, sehingga
tidak mengherankan bila jumlah orang yang sukses lebih sedikit dari orang yang `biasa-biasa saja'.

Mungkin saat ini kita sedang mengalami penolakan, kekecewaan, patah hati, atau terluka karena orang-orang di sekitar kamu cobalah utk tetap tersenyum dan tetap berjalan di lorong tersebut, dan sambil katakan di dalam hatimu.. "Airmataku diperhitungkan Tuhan.. dan penderitaanku ini akan mengubah  diriku menjadi mutiara."
Semoga........