Waiting For You * Remember Rain With You*Ada Cerita di Balik Hujan

Pages

Tampilkan postingan dengan label " SERATUS PERSEN ISLAM ". Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label " SERATUS PERSEN ISLAM ". Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Maret 2012

Ada apa di bulan MUHARRAM ??

Bulan Muharam, bulan pertama dalam kalender Hijriah. Bulan ini termasuk
salah satu dari keempat bulan haram sebagaimana difirmankan Allah SWT
yang artinya, "Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua
belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan
bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) din yang lurus,
maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan
perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi
kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang
bertakwa." (At-Taubah: 36).

Empat bulan sebagaimana tersebut dalam ayat di atas adalah Muharam,
Rajab, Zulkaidah, dan Zulhijah. Dalam empat bulan ini kaum muslimin
diharamkan untuk berperang melawan orang kafir.

Bila mata bertemu mata akan datang rasa kasih.
Bila hati bertemu hati akan datang rasa sayang.
Tapi bila dahi bertemu sajadah akan terasa kebesaran Allah SWT.
SELAMAT TAHUN BARU 1 MUHARRAM 1426 H


Keutamaan Muharam
"Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan
Muharam, sedang salat yang paling afdal sesudah salat fardu adalah salat
malam."
(HR Muslim)

Ibnu Rajab al-Hambali mengatakan, Muharam disebut dengan syahrullah
(bulan Allah) memiliki dua hikmah.
Pertama, untuk menunjukkan keutamaan dan kemuliaan bulan Muharam.
Kedua, untuk menunjukkan otoritas Allah dalam mengharamkan bulan
Muharam. Pengharaman bulan ini untuk perang adalah mutlak hak Allah
saja, tidak seorang pun selain-Nya berhak mengubah keharaman dan
kemuliaan bulan Muharam.

Di samping itu, bulan Muharam juga memiliki banyak keutamaan. Salah
satunya adalah sebagaimana sabda Rasulullah saw. di atas, "Puasa yang
paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Muharam,
sedang salat yang paling afdal sesudah salat fardu adalah salat malam."
(HR Muslim).

Puasa pada bulan Muharam yang sangat dianjurkan adalah pada hari yang
kesepuluh, yaitu yang lebih dikenal dengan istilah 'aasyuura.
Aisyah--semoga Allah meridainya--pernah ditanya tentang puasa 'aasyuura,
ia menjawab, "Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw. puasa pada suatu
hari yang beliau betul-betul mengharapkan fadilah pada hari itu atas
hari-hari lainnya, kecuali puasa pada hari kesepuluh Muharam." (HR
Muslim).

Pada zaman Rasulullah, orang Yahudi juga mengerjakan puasa pada hari
'aasyuura. Mereka mewarisi hal itu dari Nabi Musa. Dari Ibnu Abbas r.a.,
ketika Rasulullah saw. tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang
Yahudi berpuasa. Rasulullah saw. bertanya, "Hari apa ini? Mengapa kalian
berpuasa?" Mereka menjawab, "Ini hari yang agung, hari ketika Allah
menyelamatkan Musa dan kaumnya serta menenggelamkan Fir'aun. Maka Musa
berpuasa sebagai tanda syukur, maka kami pun berpuasa." Rasulullah saw.
bersabda, "Kami orang Islam lebih berhak dan lebih utama untuk
menghormati Nabi Musa daripada kalian."

Abu Qatadah berkata, Rasulullah saw. Bersabda, "Puasa 'aasyuura
menghapus dosa satu tahun, sedang puasa arafah menghapus dosa dua
tahun." (HR Muslim, Tirmizi, Abu Daud).

Pada awalnya, puasa 'aasyuura hukumnya wajib. Namun, setelah turun
perintah puasa Ramadan, hukumnya menjadi sunah. Aisyah r.a. berkata,
"Rasulullah saw. memerintahkan untuk puasa 'aasyuura sebelum turunnya
perintah puasa Ramadan. Ketika puasa Ramadan diperintahkan, siapa yang
ingin boleh puasa 'aasyuura dan yang tidak ingin boleh tidak berpuasa
'aasyuura." (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi).

Ibnu Abbas r.a. menyebutkan, Rasulullah saw. melakukan puasa 'aasyuura
dan beliau memerintahkan para sahabat untuk berpuasa. Para sahabat
berkata, "Ini adalah hari yang dimuliakan orang Yahudi dan Nasrani. Maka
Rasulullah saw. bersabda, "Tahun depan insya Allah kita juga akan
berpuasa pada tanggal sembilan Muharam." Namun, pada tahun berikutnya
Rasulullah telah wafat. (HR Muslim, Abu Daud). Berdasar pada hadis ini,
disunahkan bagi umat Islam untuk juga berpuasa pada tanggal sembilan
Muharam. Sebagian ulama mengatakan, sebaiknya puasa selama tiga hari: 9,
10, 11 Muharam. Ibnu Abbas r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda,
"Puasalah pada hari 'aasyuura dan berbedalah dengan orang Yahudi.
Puasalah sehari sebelum 'asyuura dan sehari sesudahnya." (HR Ahmad).

Ibnu Sirrin melaksanakan hal ini dengan alasan kehati-hatian. Karena,
boleh jadi manusia salah dalam menetapkan masuknya satu Muharam. Boleh
jadi yang kita kira tanggal sembilan, namun sebenarnya sudah tanggal
sepuluh. (Majmuu' Syarhul Muhadzdzab VI/406) . Wallahu a'lam. sumber :
alislam.or.id

Hikmah Tahun Baru Islam:  Merancang Hidup Lebih Baik
Setiap memasuki tahun baru Islam, kita hendaknya memiliki semangat baru
untuk merancang dan melaksanakan hidup ini secara lebih baik.
''Saudaraku, aku adalah penduduk Madinah yang kaya raya.'' Kalimat itu
diucapkan seorang sahabat Rasulullah, Sa'ad bin Rabi, kepada sahabat
lainnya, Abdurrahman bin 'Auf. Sa'ad tak bermaksud pamer dan sombong,
tapi hendak meyakinkan Abdurrahman agar mau menerima tawarannya.

''Silakan pilih separuh hartaku dan ambillah,'' tegas Saad. Tidak hanya
itu, Saad menambah penawarannya. ''Aku pun mempunyai dua orang istri,
coba perhatikan yang lebih menarik perhatian Anda, akan kuceraikan ia
hingga Anda dapat memperistrinya.'' Abdurrahman menolak halus tawaran
tulus nan menggiurkan itu. Malah ia minta ditunjukkan letak pasar. Ia
menolak ikan, tapi mau kail agar bisa memancing sendiri.

''Semoga Allah memberkati Anda, istri, dan harta Anda. Tunjukkanlah
letak pasar agar aku dapat berniaga.'' jawabnya. Rekaman peristiwa dan
dialog antara Sa'ad dan Abdurrahman itu, sebagaimana diriwayatkan Anas
bin Malik, terjadi saat Rasulullah SAW mempersaudarakan kaum Muhajirin
dan Anshar di Madinah. Saad adalah penduduk Madinah, sedangkan
Abdurrahman termasuk kaum Muhajirin. Saad bukan satu-satunya kaum Anshar
yang menjadi penolong kaum Muhajirin.

Dengan semangat persaudaraan Islam, saat umat Islam Makkah hijrah ke
Madinah bersama Rasulullah, umat Islam Madinah dengan suka-cita
menyambut kaum pendatang, memberi bantuan, dan bersama-sama membangun
negeri Islam Madinah.
Kita pun seyogianya menggali kembali hikmah yang terkandung di balik
peristiwa hijrah yang dijadikan momentum awal perhitungan Tahun Hijriyah
ini. Tahun hijriyah mulai diberlakukan pada masa Khalifah Umar bin
Khattab. Sistem penanggalan Islam itu tidak mengambil nama 'Tahun
Muhammad' atau 'Tahun Umar'. Artinya, tidak mengandung unsur pemujaan
seseorang atau penonjolan personifikasi, tidak seperti sistem
penanggalan Tahun Masehi yang diambil dari gelar Nabi Isa, Al-Masih
(Arab) atau Messiah (Ibrani).


Menurut dongeng atau mitos, Aji Saka diyakini sebagai raja keturunan
dewa yang datang dari India untuk menetap di Tanah Jawa. Penetapan nama
Tahun Hijriyah (al-Sanah al-Hijriyah) merupakan kebijaksanaan Khalifah
Umar. Seandainya ia berambisi untuk mengabadikan namanya dengan
menamakan penanggalan itu dengan Tahun Umar sangatlah mudah baginya
melakukan itu. Umar tidak mementingkan keharuman namanya atau
membanggakan dirinya sebagai pencetus ide sistem penanggalaan Islam itu.


Ia malah menjadikan penanggalan itu sebagai jaman baru pengembangan
Islam, karena penanggalan itu mengandung makna spiritual dan nilai
historis yang amat tinggi harganya bagi agama dan umat Islam. Selain
Umar, orang yang berjasa dalam penanggalan Tahun Hijriyah adalah Ali bin
Abi Thalib. Dialah yang mencetuskan pemikiran agar penanggalan Islam
dimulai penghitungannya dari peristiwa hijrah, saat umat Islam
meninggalkan Makkah menuju Yatsrib (Madinah).

Dalam buku Kebangkitan Islam dalam Pembahasan (1979), Sidi Gazalba,
cendekiawan Islam asal Malaysia, menuliskan, ''Dipandang dari ilmu
strategi, hijrah merupakan taktik. Strategi yang hendak dicapai adalah
mengembangkan iman dan mempertahankan kaum mukminin.'' Hijrah adalah
momentum perjalanan menuju Daulah Islamiyah yang membentuk tatanan
masyarakat Islam, yang diawali dengan eratnya jalinan solidaritas sesama
Muslim (ukhuwah Islamiyah) antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar.

Jalinan ukhuwah yang menciptakan integrasi umat Islam yang sangat kokoh
itu telah membawa Islam mencapai kejayaan dan mengembangkan sayapnya ke
berbagai penjuru bumi. Kaum Muhajirin-Anshar membuktikan, ukhuwah
Islamiyah bisa membawa umat Islam jaya dan disegani. Bisa dimengerti,
jika umat Islam dewasa ini tidak disegani musuh-musuhnya, menjadi umat
yang tertindas, serta menjadi bahan permainan umat lain, antara lain
akibat jalinan ukhuwah Islamiyah yang tidak seerat kaum
Mujahirin-Anshar.

Dari situlah mengapa konsep dan hikmah hijrah perlu dikaji ulang dan
diamalkan oleh umat Islam. Setiap pergantian waktu, hari demi hari
hingga tahun demi tahun, biasanya memunculkan harapan baru akan keadaan
yang lebih baik. Islam mengajarkan, hari-hari yang kita lalui hendaknya
selalu lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Dengan kata lain, setiap
Muslim dituntut untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari. Hadis
Rasulullah yang sangat populer menyatakan, ''Barangsiapa yang hari ini
lebih baik dari kemarin, adalah orang yang beruntung.

Bila hari ini sama dengan kemarin, berarti orang merugi, dan jika hari
ini lebih jelek dari kemarin, adalah orang celaka.'' Oleh karena itu,
sesuai dengan QS 59:18, ''Hendaklah setiap diri memperhatikan (melakukan
introspeksi) tentang apa-apa yang telah diperbuatnya untuk menghadapi
hari esok (alam akhirat).'' Pada awal tahun baru hijriyah ini, kita bisa
merancang hidup agar lebih baik dengan hijrah, yakni mengubah perilaku
buruk menjadi baik, melaksanakan perintah Allah dan menjauhi
larangan-Nya.

''Muhajir adalah orang yang meninggalkan segala larangan Allah,'' sabda
Rasulullah. Kita ubah ketidakpedulian terhadap kaum lemah menjadi sangat
peduli dengan semangat zakat, infak, dan sedekah. Selain itu juga
mengubah permusuhan dan konflik menjadi persaudaraan dan kerjasama,
mengubah pola hidup malas-malasan menjadi giat bekerja, mengubah hidup
pengangguran dan peminta-minta menjadi pekerja mandiri, dan tidak
bergantung pada belas kasih orang lain.

Lihat saja teladan Abdurrahman bin Auf dengan semangat wirausahanya. Ia
memilih berdagang untuk mencari nafkah hidupnya ketimbang menerima belas
kasihan orang lain. Tidak kalah pentingnya, tahun ini kita harus hijrah
pilihan politik, dari parpol dan politisi busuk kepada parpol dan
politisi harum, dari rezim korup dan zalim kepada pembentukan
pemerintahan Islami yang bersih.

Dengan kekuatan iman dan keeratan ukhuwah Islamiyah seperti kaum
Muhajirin dan Anshar, umat Islam bisa kuat dan bahu-membahu memenangkan
partai Allah (hizbullah) yang menegakkan syiar Islam berasaskan tauhid
dan ukhuwah, bukan memenangkan partai setan (hizbusy syaithon) yang
mengibarkan bendera kebatilan. Wallahu a'lam. Selamat Tahun Baru Islam 1
Muharram 1426 Hijriyah. (ASM. Rom

Rabu, 21 Maret 2012

ALLAH MAHA ADIL MENJADIKAN HIDUP DIDUNIA SEBAGAI UJIAN

        Ada orang yang mengeluh, kenapa ya kok saya dilahirkan sebagai anaknya
orang miskin, sehingga sekarang saya miskin, saya tidak sekolah, saya
tidak bisa merasakan fasilitas-fasilitas yang ada karena saya tidak cukup
kaya untuk mendapatkannya. Ada yang mengeluh karena ia lahir sebagai anak
cacat, atau buruk rupa, atau kekurangan-kekurangan lain sebagai manusia
normal. Ada juga orang yang sebenarnya memiliki banyak kelebihan dibanding
orang lainnya, tetapi ia masih saja mengeluh, sedih, merasa tidak bahagia,
karena ia memang memiliki harapan selangit dan tidak bisa mencapainya,
sehingga ia terus disiksa oleh harapan yang tidak kunjung diraihnya itu.
Inilah orang yang tertipu, lalai, lena, terhijab dirinya dari rahasia
Allah, tertutup pendangannya dari keadilan Allah, tidak bisa melihat
keadilan Allah.

       Keadilan Allah terletak pada dijadikannya dunia dengan segala peristiwa
yang terjadi diatasnya sebagai realitas semu, tidak sejati. Realitas semu
ini di-desain sebagai ujian bagi manusia, untuk nge-test manusia. Maka
segala yang ada, segala yang terjadi, hanyalah ujian belaka. Kondisi jasad
kita, kekayaan, asesoris, status sosial, kehormatan, atribut, … adalah
ujian. Kaya atau miskin hakikatnya sama, sama-sama ujian. Perbedaannya
hanya terletak pada bagaimana kita memberikan respon terhadap semua ujian
itu. Dan uniknya dunia ini memang terletak pada keragaman keadaan manusia,
setiap orang memiliki ujian-ujian masing-masing, sehingga kehidupan
menjadi dinamis, tidak statis, tidak monoton, seni kehidupan yang
merupakan kreasi Maha Tinggi dari Allah Yang Serba Maha. Ada yang kaya,
ada yang miskin, ada yang pejabat, ada yang rakyat, ada petani, nelayan,
gelandangan, pengungsi, menteri, pengusaha, politikus, kyai, … tetapi
hakikatnya semua sama, sama-sama sedang diuji dengan realitas-realitas
masing-masing yang menyertai hidup manusia.

      Sungguh, kemuliaan manusia tidak terdapat pada kekayaannya, kegagahannya,
kemewahannya, "kebahagiaan"-nya di dunia. Semua itu hanya ujian hidup.
Semua itu bukan kesejatian. Kesejatian ada di akhirat sana, di hari akhir
kelak, di saat dimana tidak ada pertolongan melainkan pertolongan Allah.
Boleh jadi, ada orang yg hidup senang berlimpah kemewahan di dunia, kita
sangka itu kemuliaan, padahal boleh jadi malah itu yg akan mengantarkan
kita pada kehinaan di akhirat kelak karena kita lupa diri selama di dunia.
Dan boleh jadi kita sangka seseorang itu miskin, hina di dunia, sengsara
hidupnya, tetapi ia menjadi manusia mulia di sisi Allah, bahagia diakhirat
kelak. Ia mulia, bukan karena kemewahan, bukan sebab kegagahan, tetapi
karena ia lulus ujian selama di dunia ..

Al-Qur'an Sebagai Pembela Di Hari Akhirat


Abu Umamah r.a. berkata : "Rasulullah S.A.W telah menganjurkan supaya kami semua mempelajari Al-Qur'an, setelah itu Rasulullah S.A.W memberitahu tentang kelebihan Al-Qur'an."

Telah bersabda Rasulullah S.A.W : Belajarlah kamu akan Al-Qur'an, di akhirat nanti dia akan datang kepada ahli-ahlinya, yang mana di kala itu orang sangat memerlukannya."

Ia akan datang dalam bentuk seindah-indahnya dan ia bertanya, " Kenalkah kamu kepadaku?" Maka orang yang pernah membaca akan menjawab : "Siapakah kamu?"

Maka berkata Al-Qur'an : "Akulah yang kamu cintai dan kamu sanjung, dan juga telah bangun malam untukku dan kamu juga pernah membacaku di waktu siang hari."

Kemudian berkata orang yang pernah membaca Al-Qur'an itu : "Adakah kamu Al-Qur'an?" Lalu Al-Qur'an mengakui dan menuntun orang yang pernah membaca mengadap Allah S.W.T. Lalu orang itu diberi kerajaan di tangan kanan dan kekal di tangan kirinya, kemudian dia meletakkan mahkota di atas kepalanya.

Pada kedua ayahnya dan ibunya pula yang muslim diberi perhiasan yang tidak dapat ditukar dengan dunia walau berlipat ganda, sehingga keduanya bertanya : "Dari manakah kami memperolehi ini semua, pada hal amal kami tidak sampai ini?"
Lalu dijawab : "Kamu diberi ini semua kerana anak kamu telah mempelajari Al-Qur'an."


Sumber:MyQuran

Selasa, 20 Maret 2012

99 Langkah Menuju Kesempurnaan Iman


01.  Bersyukur apabila mendapat nikmat
02. Sabar apabila mendapat kesulitan
03. Tawakal apabila mempunyai rencana/program
04. Ikhlas dalam segala amal perbuatan
05. Jangan membiarkan hati larut dalam kesedihan
06. Jangan menyesal atas sesuatu kegagalan
07. Jangan putus asa dalam menghadapi kesulitan
08. Jangan usil dengan kekayaan orang
09. Jangan hasad dan iri atas kesuksessan orang
10.  Jangan sombong kalau memperoleh kesuksesan
11.  Jangan tamak kepada harta
12.  Jangan terlalu ambisi akan sesuatu kedudukan
13.  Jangan hancur karena kezaliman
14.  Jangan goyah karena fitnah
15.  Jangan berkeinginan terlalu tinggi yang melebihi kemampuan diri
16.  Jangan campuri harta dengan harta yang haram
17.  Jangan sakiti ayah dan ibu
18.  Jangan usir orang yang meminta-minta
19.  Jangan sakiti anak yatim
20. Jauhkan diri dari dosa-dosa yang besar
21.  Jangan membiasakan diri melakukan dosa-dosa kecil
22. Banyak berkunjung ke rumah Allah (masjid)
23. Lakukan shalat dengan ikhlas dan khusyu
24. Lakukan shalat fardhu di awal waktu, berjamaah di masjid
25. Biasakan shalat malam
26. Perbanyak dzikir dan do'a kepada Allah
27. Lakukan puasa wajib dan puasa sunat
28. Sayangi dan santuni fakir miskin
29. Jangan ada rasa takut kecuali hanya kepada Allah
30. Jangan marah berlebih-lebihan
31.  Cintailah seseorang dengan tidak berlebih-lebihan
32. Bersatulah karena Allah dan berpisahlah karena Allah
33. Berlatihlah konsentrasi pikiran
34. Penuhi janji apabila telah diikrarkan dan mintalah maaf apabila karena sesuatu sebab tidak dapat dipenuhi
35. Jangan mempunyai musuh, kecuali dengan iblis/syaitan
36. Jangan percaya ramalan manusia
37. Jangan terlampau takut miskin
38. Hormatilah setiap orang
39. Jangan terlampau takut kepada manusia
40. Jangan sombong, takabur dan besar kepala
41.  Berlakulah adil dalam segala urusan
42. Biasakan istighfar dan taubat kepada Allah
43.  Hiasi rumah dengan bacaan Al-Quran
44. Perbanyak silaturrahim
45. Tutup aurat sesuai dengan petunjuk Islam
46. Bicaralah secukupnya
47. Beristeri/bersuami kalau sudah siap segala-galanya
48. Hargai waktu, disiplin waktu dan manfaatkan waktu
49. Biasakan hidup bersih, tertib dan teratur
50. Jauhkan diri dari penyakit-penyakit bathin
51.  Sediakan waktu untuk santai dengan keluarga
52. Makanlah secukupnya tidak kekurangan dan tidak berlebihan
53. Hormatilah kepada guru dan ulama
54. Sering-sering bershalawat kepada nabi
55. Cintai keluarga Nabi saw
56. Jangan terlalu banyak hutang
57. Jangan terlampau mudah berjanji
58. Selalu ingat akan saat kematian dan sadar bahwa kehidupan dunia adalah kehidupan sementara
59. Jauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat seperti mengobrol yang tidak berguna
60. Bergaul lah dengan orang-orang soleh
61.  Sering bangun di penghujung malam, berdoa dan beristighfar
62. Lakukan ibadah haji dan umrah apabila sudah mampu
63. Maafkan orang lain yang berbuat salah kepada kita
64. Jangan dendam dan jangan ada keinginan membalas kejahatan dengan kejahatan lagi
65. Jangan membenci seseorang karena pahaman dan pendiriannya
66. Jangan benci kepada orang yang membenci kita
67. Berlatih untuk berterus terang dalam menentukan sesuatu pilihan
68. Ringankan beban orang lain dan tolonglah mereka yang mendapatkan kesulitan
69. Jangan melukai hati orang lain
70. Jangan membiasakan berkata dusta
71.  Berlakulah adil, walaupun kita sendiri akan mendapatkan kerugian
72. Jagalah amanah dengan penuh tanggung jawab
73. Laksanakan segala tugas dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan
74. Hormati orang lain yang lebih tua dari kita
75. Jangan membuka aib orang lain
76. Lihatlah orang yang lebih miskin daripada kita lihat pula orang yang lebih berprestasi dari kita
77. Ambilah pelajaran dari pengalaman orang-orang arif dan bijaksana
78. Sediakan waktu untuk merenung apa-apa yang sudah dilakukan
79. Jangan sedih karena miskin dan jangan sombong karena kaya
80. Jadilah manusia yang selalu bermanfaat untuk agama,bangsa dan Negara
81.  Kenali kekurangan diri dan kenali pula kelebihan orang lain
82. Jangan membuat orang lain menderita dan sengsara
83. Berkatalah yang baik-baik atau tidak berkata apa-apa
84. Hargai prestasi dan pemberian orang
85. Jangan habiskan waktu untuk sekedar hiburan dan kesenangan
86. Akrablah dengan setiap orang, walaupun yang bersangkutan tidak menyenangkan
87. Sediakan waktu untuk berolahraga yang sesuai dengan norma-norma agama dan kondisi diri kita
88. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan fisikal atau mental kita menjadi terganggu
89. Ikutilah nasihat orang-orang yang arif dan bijaksana
90. Pandai-pandailah untuk melupakan kesalahan orang dan pandai-pandailah untuk melupakan jasa kita
91.  Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan orang lain terganggu dan jangan berkata sesuatu yang dapat menyebabkan orang lain terhina
92. Jangan cepat percaya kepada berita jelek yang menyangkut teman kita sebelum dipastikan kebenarannya
93. Jangan menunda-nunda pelaksanaan tugas dan kewajiban
94. Sambutlah huluran tangan setiap orang dengan penuh keakraban dan keramahan dan tidak berlebihan
95. Jangan memforsir diri untuk melakukan sesuatu yang diluar kemampuan diri
96. Waspadalah akan setiap ujian, cobaan, godaan dan tentangan. Jangan lari dari kenyataan kehidupan
97. Yakinlah bahwa setiap kebajikan akan melahirkan kebaikan dan setiap kejahatan akan melahirkan merusakan
98. Jangan sukses di atas penderitaan orang dan jangan kaya dengan memiskinkan orang


"Sebarkanlah walau satu ayat pun" (Sabda Rasulullah SAW) "Nescaya Allah
memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu.
Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah
mendapat kemenangan yang besar."
(Surah Al-Ahzab:71)